Senin, 06 Oktober 2014

TIPS Manajamen Waktu Merubah Hidup Anda

Cara Bijak Mengelola Waktu

”Seandainya saya punya lebih banyak waktu!” Seberapa sering Anda mengatakannya? Waktu boleh dibilang sama bagi semua orang, karena orang yang berkuasa dan kaya tidak punya lebih banyak waktu daripada orang biasa dan miskin. Orang kaya maupun miskin juga tidak bisa menimbun waktu. Sekali waktu hilang, itu hilang selamanya. Maka, haluan yang bijaksana adalah memanfaatkan sebaik-baiknya waktu yang kita miliki. Bagaimana? Perhatikan empat cara yang telah menolong banyak orang mengelola waktu dengan bijak.
manajemen waktu
Jika anda ingin membuat perubahan nyata dalam hidup anda, anda harus terlebih dahulu memulai dengan belajar bagaimana secara efisien mengelola waktu anda. Siapa pun yang mengetahui bagaimana mengelola waktu, akan juga mengetahui bagaimana mengelola hidup. Manajemen waktu yang baik adalah tentang prioritas yang tepat, baru setelah itu tercipta manajemen yang tepat untuk hidup anda. Kualitas hidup anda tergantung pada manajemen yang cerdas dari waktu anda dan bukan oleh jumlah energi yang anda konsumsi pada apa yang anda lakukan.
Apakah anda selalu merasa kehabisan waktu dan anda tidak dapat melakukan apa yang dijadwalkan?
Apakah anda selalu merasa bahwa anda tidak memiliki cukup waktu untuk diri sendiri?
Apakah anda merasa bahwa anda hidup dan bekerja di lingkungan yang penuh tekanan tanpa hasil positif?
Jika jawaban untuk salah satu pertanyaan di atas adalah YA, maka sudah saatnya untuk mengubah hidup anda dan mulai menghabiskan waktu anda dengan bijaksana dan efisien. Anda harus berjanji pada diri anda sendiri bahwa anda akan menjadi lebih terorganisasi dan fokus pada tujuan anda dan bahwa anda akan menggunakan waktu untuk kebaikan anda sendiri.
1. Menguasai daftar hal-hal yang harus anda lakukan (to-do lists)
To-do lists yang baik dan efisien haruslah mencakup tugas-tugas dan kegiatan anda saat ini serta tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam waktu dekat. Untuk setiap item dalam daftar, anda harus menentukan kapan dan berapa banyak waktu yang anda butuhkan untuk menyelesaikannya. Tugas yang berulang dapat direncanakan untuk hari-hari tertentu di mana anda memiliki waktu yang tepat untuk menyelesaikannya.
Anda tidak boleh meremehkan pentingnya perencanaan tugas-tugas anda. Sebuah rencana yang baik dan akurat dapat memberikan anda kontrol yang besar dari waktu anda. Anda harus menyadari apa yang terpenting bagi anda dan menempatkannya pada urutan atas di daftar anda.
2. Buat rencana SMART (Specific-Measureable-Achievable-Reasonable-Timeline)
Rencanakan tugas yang paling sulit di awal setiap minggu sehingga anda akan lebih santai menjelang akhir minggu dan sebelum akhir pekan. Tugas yang sulit lebih baik dijadwalkan di awal minggu (Senin atau Selasa), sementara tugas-tugas yang lebih mekanis atau rutin di sekitar pertengahan minggu, dan mendekati akhir minggu (Kamis dan Jumat) waktu anda bisa sedikit lebih bebas dan santai karena di kedua hari ini telah menumpuk kelelahan dan stres sebagai akibat dari pekerjaan di hari-hari sebelumnya.
3. Belajarlah untuk mengatur prioritas anda
Anda harus belajar bagaimana secara efisien mengatur prioritas-prioritas anda. Tugas yang paling penting harus berada di peringkat lebih tinggi dalam daftar. Cobalah untuk menerapkan prinsip Pareto di mana 80 % dari prestasi anda dihasilkan dengan melakukan 20 % usaha anda. Dengan kata lain, cobalah untuk bekerja cerdas dan sederhana. Jangan mengabaikan tugas-tugas penting anda untuk mencapai hasil yang tidak signifikan.
4. Kunci manajemen waktu yang sukses adalah delegasi
Kunci sukses manajemen waktu adalah delegasi. Jangan mencoba untuk menyelesaikan semua tugas sendirian. Kenali mana tugas yang dapat diselesaikan oleh orang lain dan delegasikan pekerjaan tersebut kepada mereka. Ini adalah satu-satunya cara dimana anda dapat memiliki waktu yang diperlukan untuk menangani tugas-tugas yang benar-benar penting bagi anda. Pada saat yang sama, apa yang anda pilih untuk dikerjakan, lakukanlah dengan benar pertama kalinya demi menghemat waktu karena mengerjakan pekerjaan berulang. Pengalaman menunjukkan bahwa waktu yang anda perlukan untuk mengulang pekerjaan anda akan lebih banyak dihabiskan dibanding waktu yang anda perlukan untuk mengerjakan pekerjaan secara benar dari awal. Delegasi adalah seni yang dapat memberikan banyak manfaat bagi orang-orang yang harus melakukan banyak kegiatan.
5. Jangan takut untuk mengatakan ‘TIDAK’
Anda harus belajar untuk sekali-sekali mengatakan TIDAK dan menolak tugas-tugas yang tidak dapat anda lakukan. Jika anda kehabisan waktu dan merasa stres, maka lebih baik untuk menolak undangan pergi makan siang atau makan malam keluarga. Anda harus menyadari bahwa anda tidak dalam kewajiban untuk mempersingkat segalanya dalam sekejap. Anda harus belajar untuk memilih tugas yang anda benar-benar ingin lakukan atau yang perlu diselesaikan.
6. Membagi tugas yang panjang dalam kegiatan yang lebih kecil
Teknik lain yang akan membantu anda dalam manajemen waktu adalah dengan memecah tugas-tugas panjang yang biasanya anda tidak ingin melakukannya atau terlalu sulit menjadi beberapa kegiatan yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Ini akan mengelola baik stres maupun waktu anda. Anda misalnya, dapat meluangkan waktu 10 menit setiap hari untuk bekerja pada tugas yang tidak menyenangkan atau panjang. Dengan menggunakan pendekatan ini, secara bertahap anda akan memiliki beberapa kemajuan, anda akan merasa lebih baik dan pada akhirnya anda akan dapat menyelesaikan aktifitas dengan cepat daripada terus menerus menunda hal tersebut.
7. Perfeksionisme membutuhkan waktu
Anda harus mencoba menghindari kesempurnaan. Berkutat tanpa akhir dalam mencari kesempurnaan untuk hal-hal sepele adalah buang-buang waktu dan tidak akan memberikan anda cukup waktu untuk menangani tugas-tugas yang lebih berguna dan mungkin lebih menyenangkan.
8. Kenali waktu dimana anda lebih produktif
Adalah normal bahwa kinerja Anda tidak sama sepanjang waktu. Ada saat-saat dimana anda lebih produktif sementara di saat lain produktivitas anda menurun karena berbagai alasan. Fase ini dapat terjadi pada hari yang sama. Dengan asumsi bahwa anda bekerja 8 jam sehari, ini memberi anda sekitar 1.800 jam kerja per tahun. Temukan periode waktu dimana anda lebih produktif dan di saat tersebut cobalah untuk menangani tugas yang paling sulit.
9. Cobalah untuk tidak menunda hal-hal untuk nanti
Anda perlu belajar untuk mengatasi setiap tugas dan masalah ketika perlu ditangani. Cobalah untuk tidak menunda kegiatan untuk lain waktu, karena di bawah tekanan waktu anda lebih mungkin untuk melakukan kekeliruan dan mengambil keputusan yang salah.
10. Hindari hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian anda
Selama jam kerja, cobalah untuk menemukan saat-saat di mana tidak ada yang bisa mengganggu anda melakukan aktivitas. Jika anda memiliki kebijakan pintu terbuka, anda mungkin harus menutupnya sesekali. Jika seseorang datang ke kantor anda ketika anda memiliki tugas yang harus diselesaikan, tolaklah secara lembut permintaannya dan jadwalkan waktu lain untuk bertemu dengan mereka.
12. Jangan lupa diri anda sendiri
Ketika anda membuat rencana, jangan lupa menyertakan kegiatan yang berkaitan dengan kesenangan dan waktu istirahat untuk anda sendiri. Selama waktu ini, pastikan bahwa anda benar-benar berhenti dari pekerjaan anda, santailah dan isi ulang baterai anda. Jika diperlukan cobalah untuk tidur selama setengah jam dan selama waktu itu lakukan sesuatu yang anda sukai dan membuat anda tenang. Setengah jam memang tidak membuat perbedaan dalam tidur anda, tetapi dapat memberikan kepuasan dan mempersiapkan anda lebih baik di hari berikutnya. Beri penghargaan untuk diri anda sendiri ketika anda berhasil menyelesaikan pekerjaan yang melelahkan.
12. Menganalisa dimana anda menghabiskan waktu anda
Untuk dapat mengoptimalkan waktu anda lebih baik, anda harus terlebih dahulu memahami di mana anda menghabiskan waktu anda. Untuk melakukan itu, anda dapat menggunakan log (catatan rekaman) untuk merekam aktivitas anda. Anda harus melakukan itu selama 2-3 minggu. Dalam log, anda harus mencatat semua yang anda lakukan per jam ketika anda terjaga, berapa banyak waktu yang anda alokasikan untuk setiap tugas, aktivitas, pertemuan dan berapa banyak waktu yang anda alokasikan untuk istirahat dan tidur. Setelah anda memiliki informasi ini di log, anda dapat mulai menganalisa di mana anda menghabiskan waktu anda dan buatlah perubahan yang diperlukan untuk mengoptimalkan waktu anda. Anda harus fokus pada kegiatan yang paling penting untuk diselesaikan. Hindari kegiatan atau tugas yang tidak memberikan nilai tambah. Sebagai contoh, setelah dilihat pada log anda, anda melakukan pengecekan email sebanyak 10 kali dalam sehari; anda harus meminimalkan menjadi hanya beberapa kali per hari.
13. Selalu rencanakan waktu untuk kegiatan tak terduga
Masukkan dalam rencana anda waktu ekstra untuk tugas-tugas dan kegiatan tak terduga. Revisi rencana anda secara teratur dan alokasikan waktu untuk kegiatan tak terduga. Hal-hal yang beresiko akan memakan waktu anda misalnya masalah dengan PC anda, dan miliki solusi alternatif yang untuk mengatasinya.
Manajemen waktu adalah suatu keterampilan yang memerlukan waktu untuk menguasainya sehingga mulailah bekerja dengannya! Pada akhirnya, manajemen waktu akan memberi anda waktu tambahan yang anda butuhkan untuk dapat menikmati apa yang paling penting bagi anda dan mengubah hidup anda menjadi lebih baik.

by: http://www.akuinginsukses.com/13-tips-manajemen-waktu-yang-akan-merubah-hidup-anda/

10 TIPS Semangat Setiap Hari

1. Tersenyumlah
menghadapi situasi sulit memang tidak mudah,
Tetapi kamu bebas memilih...untuk cemberut atau tersenyum?
ketika suatu pagi berangkat dengan senyum, tersenyum dengan penumpang bis lain, menyapa security dengan senyum, menyapa teman sekantor dengan senyum, mengerjakan pekerjaan yang menunggu dengan senyum, menyapa bos dengan pujian dan senyuman tulus.
Hmm..daftar ini bisa panjang lho klo kamu bisa berlatih ramah dan murah senyumtapi jangan senyum-senyum sendiri yah? tar dikirain gak waras lho...hahaha.

2. Joke,
ambil waktu sekitar 5- 10 menit untuk bersenda gurau dengan teman sekantor.
Momen ini yang paling saya suka! hehehe..ini membantu menghilangkan stress, ketegangan akan pekerjaan dan teman sekantor yang rada pendiem. Trust me! that's work!
Tidak perlu menghapal lelucon yang ada di buku atau di internet, cukup menceritakan kejadian lucu yang kamu alami, contohnya :
Kemarin malam saya masih melek didepan laptop saya. Asik banget dengan apa yang saya baca di depan layar, saya tahu saat itu sudah sangat larut. Lalu saya menggunakan headset yang disambungkan dengan loudspeaker laptop saya. Sambil menghentak-hentakan tangan saya diatas meja kerja, menggeleng-gelengkan kepala saya, dan bernyanyi sesuka hati saya. Ini gila!pikir saya..tapi siapa yang lihat?hehehe... gak da yg liat?! :P
Sangking asiknya...tiba-tiba saja ada tangan yang menepuk pundak saya. Jelas jantung saya terasa melompat. Tidak cukup keras berteriak, tapi jujur...saya ketakutan, shocking me for a moment . Ternyata adik saya iseng, melihat saya asik dan tidak menyadari ada orang yang lewat dibelakang saya. Dia mengejutkan saya dari belakang...
Saya teriak, memprotes, namun tidak marah, tapi jujur saya malu. hahahahaa...Kami berdua sama-sama tertawa di malam yang larut itu. Ini tindakan bodoh, konyol dan gila...namun menyenangkan!
3. Musik,
Let's play the music!!!
Jujur...Hidup tanpa musik, sama saja hidup seperti robot.
Musik memiliki nada-nada kehidupan...mengalun pelan mengikuti irama perasaan yang ingin disampaikan dan diekspresikan...Ekspresi yang terkadang sulit digambarkan hanya dengan kata-kata saja.
Musik indah, menyenangkan, asik, seru, memberimu banyak dorongan dan inspirasi. Try it! and you will addict. hehe. 

4. Social,
Yup!bersosial lah teman-teman. Apa gunanya alat komunikasi canggih? jika tidak bisa dimanfaatkan untuk membuatmu tambah semangat 2 kali lipat dari biasanya. 
Facebook, Twitter, BBM, YM, Msn adalah contoh dari beberapa alat media sosial yang ada disekeliling kita. 
Sempatkan diri kamu ber-comment ria di media sosial. Hal tersebut selain membantu kamu mengeluarkan unek-unek, bakalan bantu kamu lebih akrab dengan teman-teman yang lainnya. so...hal ini positif jika digunakan dalam porsi yang tidak berlebihan.

5. Memilih jalur lain,
Pergi dan pulang dengan jalur yang sama?hmm...pasti sangat membosankan.
Berpikir kreatif! bagaimana bisa kita memilih jalur lain? walo agak jauh..tetapi bisa melihat pemandangan indah, apakah salah?tentu tidak. Saya pikir itu semua sebanding dengan semangat yang akan kamu dapetin. Siapa tahu kamu ketemu jalan tikus menuju rumahmu? mari mainkan imajinasi kamu!hehehe...

6. Interaksi lawan jenis,
Percaya gak percaya, berteman dengan lawan jenis jauh memberi kita semangat yang lebih daripada sesama jenis. Hmm...apa ya alasannya? saya kurang tahu..soalnya alamiah sih ya.wkwkk... :D
Positifnya kamu bisa menjadi diri kamu apa adanya, tidak ada rasa persaingan dan mendapat pengetahuan yang lebih luas.

7. Menyalurkan hobi,
Gabung dengan komunitas kamu! Kamu suka nulis?gabung ke komunitas yang suka menulis. Kamu suka travelling?fotografi? sosial? hmm...pilih saja. berkumpul dengan orang-orang yang satu visi dan misi sangat menyenangkan. Kalian akan bersenang-senang... Enjoy the time!!!

8. Baca buku dan literacy lainnya,
Banyak baca...banyak tahu...banyak cerita...banyak teman karena tertarik akan cerita dan pengetahuan kamu.
Gak perlu baca satu buku yang tebal-tebal bak buku esiklopedia. Cukup baca headline saja. Sinopsisnya dan inti buku...hehehe. Ini kebiasaan saya yang sok tahu. Tapi ingat cuma katakan yang kamu tahu, jangan ngarang sesuka hati. Bisa jadi kamu malah dicap pembual...hehehe.

9. Menonton,
menonton adalah kegiatan yang paling santai dan hal yang paling mudah dilakukan. Menonton film-film korea yang cukup kocak bisa menambah semangat. Atau film action yang bisa membuat dirimu ikutan aktif berteriak dan memberi semangat? tidak ada yang melarang...silakan menonton dengan genre film yang kamu sukai.

10. Cara Berbicara dan Bahasa Tubuh,
Well, gaya berbicara dan bahasa tubuh sangat mempengaruhi semangat dalam diri. Orang-orang yang bersemangat akan selalu antusias dalam cara dan gaya berbicara. Posisi tegak, rileks, tenang, senyum dan antusias akan sesuatu akan membuat kamu semua merasakan bahwa ada semangat yang terus mengalir dalam dirimu...
Mengalir dan memberikannya pada orang lain yang bersamamu.

Sarapan yang Benar

Merdeka.com - Sejak lama dipercaya bahwa sarapan adalah waktu makan yang utama. Hal ini memang benar adanya. Selama tidur, Anda tak memakan apapun sementara tubuh, terutama otak tetap bekerja dan tidak ikut tidur. Karena itu, di pagi hari tubuh Anda membutuhkan energi melalui makanan yang dikonsumsi.

Meski begitu, jangan sembarangan makan apapun saat sarapan. Konsumsi makanan yang menyehatkan dan kaya protein. Berikut adalah beberapa kesalahan yang sering dilakukan orang saat sarapan, seperti dilansir oleh Mag for Women.

1. Melewatkan sarapan
Melewatkan sarapan adalah kesalahan pertama yang banyak dilakukan orang dan sebaiknya dihindari. Tubuh membutuhkan energi di pagi hari dan ini harus didapatkan melalui sarapan. Jika Anda tak punya banyak waktu di pagi hari, siapkan sarapan pada malam sebelumnya.

2. Makan terlalu banyak
Melewatkan sarapan adalah kesalahan, begitu juga dengan makan terlalu banyak saat sarapan. Makan makanan yang menyehatkan lebih penting daripada makan banyak. Karena makan terlalu banyak saat sarapan akan membuat Anda cepat ngantuk dan menjadi tak bersemangat.

3. Menu sarapan tidak bervariasi
Makan makanan yang sama setiap hari memang mudah dan nyaman untuk Anda, namun Anda sebaiknya tidak makan makanan yang sama setiap pagi, seperti sereal saja atau lainnya. Anda akan kekurangan nutrisi. Cobalah untuk melakukan variasi dengan menu sarapan Anda. Pastikan juga konsumsi makanan bergizi.

4. Terburu-buru
Terlalu terburu-buru saat sarapan akan membuat Anda tersedak. Selain itu,e mendorong makanan dengan jus atau air hanya akan memperlambat proses pencernaan. Jangan terburu-buru saat sarapan. Konsumsi dan kunyah makanan dengan perlahan.

5. Makan di jalan
Banyak orang yang bangun terlambat dan akhirnya membeli makanan mereka di jalan atau makan seadanya dengan membeli roti dan lainnya. Selain ini bisa mengganggu konsentrasi menyetir Anda jika makan sambil mengemudi, selain itu, Anda juga sudah kehilangan energi ketika makan sambil berjalan atau melakukan aktivitas lain.

Ini adalah beberapa kesalahan yang banyak dilakukan orang saat sarapan. Jika Anda termasuk orang yang sering melakukannya, mulai hindari hal ini sekarang juga!

Rabu, 21 Mei 2014

Studi Al-Qur’an (Pendekatan Filologi dan History)


Tugas Mandiri                                                                          Dosen Pembimbing
Mata Kuliah STUDI HADITS                                Dra. Hj. NURHASANAH, MA           


ULUMUL HADITS
(PENGERTIAN, SEJARAH, BAGIAN-BAGIAN, DAN KITAB-KITABNYA)





DISUSUN OLEH:
KELOMPOK I
ABDUL WAHAB MUNTHE
KHAIRUN NASRI
AHMAD SUBUHAN
ANGGA PERMANA

SEMESTER II
JURUSAN ILMU HUKUM (IH-1)
FAKULTAS SYARI’AH DAN ILMU HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
RIAU-PEKANBARU
2014


BAB I
PENDAHULUAN
               
A.      Latar Belakang
                  Studi Alquran adalah ilmu yang membahas tentang segala sesuatu yang ada kaitannya dengan Alquran. Alquran sebagai kitab suci umat islam yang berlaku sepanjang zaman tidak akan pernah habis dan selesai untuk dibahas. Inilah yang membuktikan kemukjizatan Alquran sekaligus perbedaan Alquran dengan kitab suci lainnya. Pengkajian studi ini sangatlah penting bagi umat islam khususnya, agar dapat mengetahui berbagai hal yang terkandung di dalam kitab suci tersebut.
                  Di dunia Islam sendiri pendekatan-pendekatan ilmu-ilmu modern untuk mengkaji Al-Qur’an mulai digemari, kita perlu memahami Al-Qur’an melalui berbagai dimensi dan dengan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan filologi dan sejarah yang akan dibahas dimakalah ini.
B.      Pembatasan Masalah
                Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan penulis dan agar pembahasan lebih mendalam, dalam penulisan  makalah ini penulis akan membahas tentang Studi Al-Qur’an (Pendekatan Filologi dan History)
C.      Rumusan Masalah
                   Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah di atas, penulis merumuskan permasalahan dalam penelitian yaitu;
1.       Apa Pengertian Pendekatan Filologi?
2.       Apa Pengertian Pendekatan History?
3.       Memahami apa saja pendekatan historis dalam Studi Al-Qur’an?
D.      Tujuan Penulis
               Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk Mengetahui apa pengertian pendekatan Filologis, Mengetahui apa pengertian pendekatan Historis, Memahami apa saja pendekatan historis dalam Studi Al-Qur’an.


BAB II
PEMBAHASAN
A.       PENDEKATAN FILOLOGI
                  Secara etimologis, filologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu philos yang berarti ‘cinta’ dan logos yang berarti ‘kata’. Dengan demikian, kata filologi membentuk arti ‘cinta kata’ atau ‘senang bertutur’ (Shipley dalam Baroroh-Baried, 1985: 1). Arti tersebut kemudian berkembang menjadi ‘senang belajar’, dan ‘senang kasustraan atau senang kebudayaan’ (Baroroh-Baried, 1985: 1).[1]
                  Pendekatan filologi atau literal dalam studi Islam meliputi  metode tafsir sebagai pendekatan filologi terhadap alqur’an dalam menggali makna yang dikandungnya, pendekatan filologi terhadap hadits atau sunnah Rasul dan pendekatan filologi terhadap teks-teks klasik (hermeneutika) yang merupakan refleksi kebudayaan kuno dalam tulisan-tulisan para intelek di masanya.
                  Filologi selama  ini  dikenal sebagai ilmu yang berhubungan dengan karya masa   lampau   yang   berupa   tulisan.   Studi   terhadap   karya   tulis   masa   lampau dilakukan  karena  adanya  anggapan  bahwa  dalam  peninggalan  aliran  terkandung nilai-nilai   yang   masih   relevan   dengan   kehidupan   masa   kini.
B.      PENDEKATAN HISTORY  (SEJARAH)
                  Ditinjau dari sisi etimologi, kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah (pohon) dan dari kata history dalam bahasa Inggris yang berarti cerita atau kisah. Kata history sendiri lebih populer untuk menyebut sejarah dalam ilmu pengetahuan. Jika dilacak dari asalnya, kata history berasal dari bahasa Yunani istoria yang berarti pengetahuan tentang gejala-gejala alam, khususnya manusia.
                  Melalui  pendekatan ini, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Pendekatan sejarah ini amat diperlukan dalam memahami Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu turun dalam situasi konkrit, bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam, hal ini Islam menurut pendekatan sejarah ketika ia mempelajari Al Qur’an sampai pada kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan Al Qur’an itu  terbagi menjadi dua bagian, yaitu; konsep dan kisah sejarah.
                  Pendekatan historis ini adalah suatu pandangan umum tentang pandangan metode pengajaran secara suksesif sejak dulu sampai sekarang.[2] Menurut Kuntowijoyo, sejarah bersifat empiris sedangkan agama bersifat normatif. Sejarah itu empiris karena bersandar pada pengalaman manusia. Sedangkan ilmu agama dikatakan normatif bukan berarti tidak ada unsur empirisnya, melainkan normatiflah yang menjadi rujukan.
                  Jika pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan hal-hal berkenaan Al-Qur’an dengan menelusuri sumber-sumber sejarah, maka pendekatan ini bisa didasarkan kepada personal historis. Pendekatan semacam ini berusaha untuk menelusuri awal perkembangan turunnya Al-Qur’an, untuk menemukan sumber-sumber dan jejak perkembangan Al-Qur’an, serta mencari pola-pola interaksi antara agama dan masyarakat. Pendekatan sejarah pada akhirnya akan membimbing ke arah pengembangan teori tentang evolusi agama dan perkembangan kelompok-kelompok keagamaan.[3]
                  Bersamaan dengan pendekatan filologis, pendekatan kesejarahan juga sangat dominan dalam tradisi kajian islam modern. Kajian terhadap naskah-naskah klasik keislaman telah merangsang mereka untuk mengoperasikan pendekatan kesejarahan berdasarkan dokumen-dokumen yang telah ada.
                  Berikut ini ada beberapa tema yang akan dibahas yeng bersangkutan dengan pendekatan histories.

1.       Sejarah Turunnya Al-Quran
              Allah SWT menurunkan Al-Qur'an dengan perantaraan malaikat jibril sebagai pengentar wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di gua hiro pada tanggal 17 ramadhan ketika Nabi Muhammad berusia / berumur 41 tahun yaitu surat al alaq ayat 1 sampai ayat 5. Sedangkan terakhir alqu'an turun yakni pada tanggal 9 zulhijjah tahun 10 hijriah yakni surah almaidah ayat 3.
              Alquran turun tidak secara sekaligus, namun sedikit demi sedikit baik beberapa ayat, langsung satu surat, potongan ayat, dan sebagainya. Turunnya ayat dan surat disesuaikan dengan kejadian yang ada atau sesuai dengan keperluan. Selain itu dengan turun sedikit demi sedikit, Nabi Muhammad SAW akan lebih mudah menghafal serta meneguhkan hati orang yang menerimanya. Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Penjelasan turunnya secara berangsur-angsur itu terdapat dalam firman Allah;
 
“Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Israa’: 106)

              Turunnya Al-Qur’an merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan bumi. Turunnya Al-Qur’an pertama kali pada lailatul qadr merupakan pemberitahuan kepada alam samawi yang dihuni para Malaikat tentang kemulian Muhammad. Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan riasalah barunya agar menjadi umat paling baik. Turunnya Al-Qur’an kedua secara bertahap. Rasulullah tidak menerima risalah besar ini dengan cara sekaligus.[4]
            Turunnya Al-Qur’an sekaligus dijelaskan dalam riwayat Ibnu Abbas.
“Al-Qur’an itu dipisahkan dari Az-Dzikr, lalu diletakkan di Baitul Izzah di langit dunia. Maka Jibril mulai menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW. (HR. Al-Hakim)
“Allah menurunkan Al-Qur’an sekaligus ke langit dunia, pusat turunnya Al-Qur’an secara gradual. Lalu, Allah menurunkannya kapada Rasul-Nya bagian demi bagian” (HR. Al-Hikam dan Baihaqi)
            Adapun Al-Qur’an diturunkan secara bertahap sebagaimana Allah SWT berfirman dalam kitabnya yang mulia QS. Al-Baqarah 185;
  

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

            Dan firmanNya QS.Al-Qadr: 1
 
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan (lailatul qadar).” (QS. Al-Qadr: 1)

              Nabi Muhammad s.a.w. dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan, di antaranya:
a)   Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi s.a.w. tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: "Ruhul qudus mewahyukan ke dalam kalbuku", (lihat surah (42) Asy Syuura ayat (51).
b)   Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.
c)    Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya loceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: "Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa".
d)   Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al Qur’an surah (53) An Najm ayat 13 dan 14.
 
 “Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha” (QS. An Najm: 13-14)

2.       Pengertian Al-Qur’an
              Al-Quran adalah firman atau wahyu yang berasal dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara melalui malaikat jibril sebagai pedoman serta petunjuk seluruh umat manusia semua masa, bangsa dan lokasi. Alquran adalah kitab Allah SWT yang terakhir setelah kitab taurat, zabur dan injil yang diturunkan melalui para rasul.
              "Quran" memiliki arti mengumpulkan dan menghimpun. Qira’ah berarti merangkai huruf-huruf dan kata-kata satu dengan lainnya dalam satu ungkapan kata yang teratur. Al-Qur’an asalnya sama dengan qira’ah, yaitu akar kata (masdar-infinitif) dari qara’a, qira’atan wa qur’anan.[5] Allah menjelaskan di dalam Al Qur’an sendiri, ada pemakaian kata "Qur’an" dalam arti demikian sebagai tersebut dalam ayat 17, 18 surah (75) Al Qiyaamah:
 
Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya17. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.18 (QS. Al-Qiyaamah: 17-18)

              Adapun definisi lain Al Qur’an ialah: "Kalam Allah s.w.t. yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah"
              Dengan definisi ini, kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad s.a.w. tidak dinamakan Al Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. atau Injil yang diturun kepada Nabi Isa a.s. Dengan demikian pula Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadis Qudsi, tidak pula dinamakan Al Qur’an.                  

3.       Kodifikasi (Pengumpulan) Al-Qur’an
            Yang dimaksud dengan pengumpulan Al-Qur’an (jam’ul Qur’an) oleh para ulama adalah salah satu dari dua pengetian berikut:[6]
            Pertama, Pengumpulan dalam arti hafazhahu (menghafalnya dalam hati). Jumma’ul Qur’an artinya huffazuhu (para penghafalnya, yaitu orang-orang yang menghafalkannya di dalam hati).
            Kedua, pengumpulan dalam arti Kitabuhu Kullihi (penulisan Al-Qur’an semuannya) baik dengan memisahkan-misahkan ayat-ayat dan surat-suratnya, atau menertibkan ayat-ayatnya semata dan setiap surat ditulis dalam satu lembaran yang terpisah, ataupun menertibkan ayat-ayat dan surat-suratnya dalam lembaran-lembaran yang terkumpul yang menghimpun semua surat, sebagiannya ditulis sesudah bagian yang lain.
a)      Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Rasulullah
          Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Rasulullah yaitu dengan konteks menghafal dan konteks menulis.
          Rasulullah sangat menyukai wahyu, Ia senantiasa menunggu datangnya wahyu dengan rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya, persis dengan yang dijanjikan Allah;
“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya”. (QS. Al-Qiyamah: 17)

          Oleh karena itu, ia adalah hafizh (penghafal) Al-Qur’an pertama dan merupakan contoh paling baik bagi para sahabat dalam menhafalnya, sebagai bentuk cinta mereka kepada sumber agama dan risalah Islam.
          Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka.
          Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang.
          Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan.
          Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’a pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik.
          Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As.
          Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tersebut belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat.
b)      Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Khalifah Abu Bakr
          Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatif singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu.
          Abu Bakar dihadapkan peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan murtadnya sejumlah orang Arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu. Peperangan Yamamah pada tahun keduabelas hijriyah melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Al-Qur’an . dalam peperangan ini tujuh puluh qari’ dari para sahabat gugur. Melihat itu Umar bin Khaththab merasa sangat khawatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an karena khawatir akan musnah.[7]
          Akan tetapi, Abu Bakar menolak usulan ini dan keberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah.
          Abu Bakar juga khawatir kalau-kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an.Namun Umar tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umar tersebut.
          Akhirnya kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit, karena Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat Rasulullah SAW.
          Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’ (bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda adalah penulis wahyu Rasul”. Kita diminta untuk membukukan Al-Qur’an Zaid juga menolak, ia tidak bisa memgemban amanat yang begitu berat. “Demi Allah, andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits). kata Zaid bin Tsabit, Ia adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya tersebut.
          Zaid bin Tsabit bertindak sangat teliti dan hati-hati dalam menulis Al-Qur’an. Baginya tidak cukup mengandalkan pada hafalannya semata tanpa disertai dengan hafalan dan tulisan para sahabat.
          Al-Qur’an itu bukan saja dari tulisan-tulisan yang telah ada pada lembaran-lembaran yang telah disebutkan di atas, bahkan juga didengarkan pula dari mulut orang-orang yang hafal Al-Qur’an, kemudian dituliskan kembali pada lembaran-lembaran yang baru, dengan susunan ayat-ayatnya tetapi seperti yang ditunjukkan Rasulullah. Lembaran-lembaran ini kemudian diikat menjadi satu, lalu diberi nama Mushhaf, dan disimpan sendiri oleh khalifah Abu Bakar, kemudian oleh khalifah Umar.
          Maka faedah yang nyata dalam pengumpulan Al-Qur’an di masa Abu Bakar ini ialah bahwa Al-Qur’an itu terkumpul di dalam satu mushhaf yang terbuat dari lembaran-lembaran yang seragam, baik bahannya maupun ukurannya, dan ayat-ayatnya tetap tersusun sesuai yang telah ditunjukkan Rasulullah. Adanya mushhasf ini telah dapat menentramkan hati kaum muslimin, bahwa Al-Qur’an itu akan lebih terpelihara, dapat dihindarkan dari bahaya penambahan, pengurangan atau pemalsuan atau kehilangan sebagian ayat-ayatnya. Mushhaf ini disimpan oleh khalifah Abu Bakar sendiri.[8]
          Lembaran-lembaran AlQur’an yang dikumpulakn menjadi satu mushhaf pada zaman Abu Bakar mempunyai beberapa segi kelebihan yang amat penting:
1)   Penelitian yang sangat berhati-hati, detail, cermat dan sempurna.
2)   Yang ditulis pada mushhaf hanya ayat yang sudah jelas tidak di nasakh bacaannya.
3)   Telah menjadi ilma’ umat secara mutawatir bahwa yang tercatat itu adalah ayat-ayat Al-Qur’an.
4)   Mushhaf itu memiliki Qira-ah Sab’ah yang dinuqil secara shahih.[9]
c.)     Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Khalifah Utsman bin Affan
          Latar belakang pengumpulan Al-Qur’an pada masa Usman tidak sebagaimana mestinya, sebab yang melatarbelakangi pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar. Pada masa Usman ini Islam telah tersebar luas. Kaum muslimin hidup berpencar diberbagai penjuru kota maupun pelosok. Di setiap kampung terkenal qira’ah sahabat yang mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk kampung itu. Penduduk Syam memakai qira’ah Ubai bin Kaab. Penduduk Kufah memakai qira’ah Abdullah bin Mas’ud, yang lainnya lagi memakai qira’ah Abu Musa Al-Asy’ari. Maka tidak diragukan lagi timbul perbedaan bentuk qira’ah dikalangan mereka, sehingga membawa kepada pertentangan dan perpecahan di antara mereka sendiri. Bahkan terjadi sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lain, disebabkan perbedaan qira’ah tersebut.[10]
Perbedaan tersebut ialah:
          Perbedaan mengenai susunan surat. Naskah-naskah yang mereka miliki itu tidak sama susunan atau tertib urut surat-suratnya. Hal ini disebabkan karena Rasulullah sendiri memang tidak memerintahkan supaya surat-surat Al-Qur’an itu disusun menurut tertib umat tertentu, karena masing-masing surat itu pada hakikatnya adalah berdiri sendiri, seingga seolah-olah Al-Qur’an itu terdiri dari 114 kitab. Rasulullah hanya menetapkan tertib urut ayat dalam masing-masing surat itu.
          Perbedaan mengenai bacaan. Asal mula pertikaian bacaan ini adalah karena Rasulullah sendiri memang memberikan kelonggaran kepada qabilah-qabilah Islam di Jazirah Arab untuk membaca dan melafadzkan ayat-ayat Al-Qur’an itu menurut dealek mereka masing-masing. Kelonggaran ini diberikan oleh Rasulullah agar mudah bagi mereka untuk membaca dan menghafalkan Al-Qur’an itu, tetapi kemudian kelihatanlah tanda-tanda bahwa pertikaian tentang qiraat itu, kalau dibiarkan berlangsung terus, tentu akan mendatangkan perpecahan yang lebih luas dikalangan kaum kuslimin, terutama karena masing-masing qabilah menganggap bahwa bacaan merekalah yang paling baik dan ejaan merekalah yang paling betul. Lebih berbahaya lagi apabila mereka menuliskan ayat-ayat itu dengan ejaan yang sesuai dengan dealek mereka masing-masing.[11]
          Orang yang mula-mula mensinyalir dan menumpahkan perhatian kepada keadaan ini ialah seorang sahabat bernama Hudzaifah Al-Yamani. Ia ikut dalam pertempuran, ketika kaum muslimin menaklukkan Armenia dan Azarbaijan. Di dalam perjalanan ia pernah mendengar perbedaan qiraat kaum muslimin, bahkan ia pernah menyaksikan dua orang muslim sedang bertengkar mengenai bacaan tersebut, di mana yang seorang berkata kepada yang lain:قراءتي أحسن من قراءتك ”Bacaanku lebih baik dari pada bacaanmu”. Hudzaifah merasa khawatir melihat kenyataan ini, sebab itu ketika ia kembali ke Madinah, ia menghadap khalifah Usman dan melaporkan apa-apa yang telah dilihat dan didengarnya. Mengenai perbedaan qiraat itu Hudzaifah berkata (Al-Suyuti, I, 1979:61):
أدرك  الآ مة قبل أن يختلفوا إختلاف اليهود و النصاري
Tertibkanlah umat sebelum mereka berselisih, seperti perselisiannya orang-orang Yahudi dan Nasrani.
          Usul Hudzaifah ini diterima khalifah Usman.[12] Itulah sebabnya, Usman kemudian berpikir dan merencanakan untuk membendung sebelum kegilaan itu meluas. Beliau akan mengusir penyakit sebelum kesulitan mencari obat. Kemudian beliau mengumpulkan para sahabat yang alim dan jenius serta mereka yang terkenal pandai memadamkan dan meredakan fitnah dan persengketaan itu.
          Usman ra telah melaksanakan ketetapan yang bijaksana ini. Beliau memilih empat orang tokoh handal dari sahabat pilihan. Mereka adalah Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin ‘Ash dan Abdurrahman bin Hisyam.
          Mereka dari suku Quraisy golongan Muhajirin, kecuali Zaid, ia dari golongan Anshar. Usaha yang amat mulia ini berlangsung pada tahun 24 H.[13]
          Tugas panitia ini ialah membukukan Al-Qur’an, yaitu menuliskan atau menyalin kembali ayat-ayat Al-Qur’an itu dari lembaran-lembaran yang telah ditulis pada masa Abu Bakar, sehingga menjadi mushhaf yang lebih sempurna yang akan dijadikan standar bagi seluruh kaum muslimin sebagai sumber bacaan dan hafalan mereka.




BAB III
PENUTUP
A.        Kesimpulan
                   Pendekatan filologi atau literal dalam studi Islam meliputi  metode tafsir sebagai pendekatan filologi terhadap alqur’an dalam menggali makna yang dikandungnya, pendekatan filologi terhadap hadits atau sunnah Rasul dan pendekatan filologi terhadap teks-teks klasik (hermeneutika) yang merupakan refleksi kebudayaan kuno dalam tulisan-tulisan para intelek di masanya.
                   Pendekatan historis ini adalah suatu pandangan umum tentang pandangan metode pengajaran secara suksesif sejak dulu sampai sekarang. Menurut Kuntowijoyo, sejarah bersifat empiris sedangkan agama bersifat normatif. Sejarah itu empiris karena bersandar pada pengalaman manusia. Sedangkan ilmu agama dikatakan normatif bukan berarti tidak ada unsur empirisnya, melainkan normatiflah yang menjadi rujukan.
                   Di dunia Islam sendiri pendekatan-pendekatan ilmu-ilmu modern untuk mengkaji Al-Qur’an mulai digemari, kita perlu memahami Al-Qur’an melalui berbagai dimensi dan dengan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan filosofis dan sejarah yang dibahas dimakalah ini.
                   Salah satu pedoman hidup dalam beragama adalah kitab suci, kitab suci agama Islam adalah Al-Qur’an. Al-Quran adalah firman atau wahyu yang berasal dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara melalui malaikat jibril sebagai pedoman serta petunjuk seluruh umat manusia semua masa, bangsa dan lokasi. Alquran adalah kitab Allah SWT yang terakhir setelah kitab taurat, zabur dan injil yang diturunkan melalui para Rasul.
B.        Saran
                   Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan, dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan dan pengalaman penulis, untuk itu penulis mengharapkan kepada para pembaca terutama bagi dosen pembimbing mata kuliah MSI. Untuk memberikan kritik dan sarannya kepada penulis demi kesempurnaan makalah selanjutnya.


[1] http://mahrus-salim.blogspot.com/makalah-filologis-pendekatan-histori.html/diakses pada 18-04-2014
[2]  Zakiah Daradjat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hlm.1
[3] Dudung Abdurrahman. Pendekatan Sejarah, hlm. 49
[4] Syeikh, Manna’ Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an Trjmh H.Aubur Rafiq El-Mazni, Lc. MA. (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), hlm.124
[5] Syeikh, Manna’ Al-Qaththan. ibid., hlm.16
[6] Syeikh, Manna’ Al-Qaththan. Ibid., hlm.150-151
[7] Syeikh, Manna’ Al-Qaththan. Ibid.,hal.159
[8] A. Chairudji Abd. Chalik. Ulumul Qur’an. (Jakarta: Diadit Media, 2007), hlm 56-58
[9] M. Qodirun Nur. Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis. (Jakarta: Pustaka Amani, 2001), hlm 86
[10] M. Qodirun Nur. Ibid., hlm 89
[11] Chairudji Abd. Chalik. Op.cit., hlm 60-62
[12] Ibid.,
[13] Ibid., hlm 54-56